Tampilkan postingan dengan label Tokoh Minang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Minang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2010

Dr M Djamil Pantas jadi Pahlawan Nasional


24 Agustus 2006

Photobucket - Video and Image HostingPADA 9 November 2005 lalu, mantan Walikota Padang, Bagindo Aziz Chan resmi menjadi pahlawan nasional seiring dengan terbitnya SK Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Sebagai pejuang kemerdekaan yang gigih berjuang untuk mempertahankan kedaulatan RI, Bagindo Aziz Chan memang pantas mendapatkan gelar itu.

Sebenarnya, selain Bagindo Aziz Chan adalagi tokoh yang sangat pantas untuk mendapat gelar yang sama. Dialah Dr Mohammad Djamil yang namanya kini diabadikan sebagai nama rumah sakit terbesar di Sumbagteng, RS Dr M Djamil Padang.

M Djamil sebagai seorang dokter kelahiran Kayu Tanam, 28 November 1898, telah banyak berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia dan perhatiannya yang sangat besar terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Ini terbukti dari catatan sejarah yang dapat kita baca, baik ketika mendirikan Fakultas Kedokteran dan FIPIA (Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam) di Bukittinggi maupun Universitas Andalas sendiri.

Bila kita baca sejarah hidup pejuang kemerdekaan yang sezaman dengannya, nama M Djamil tidak dapat dipisahkan dari perjuangan itu sendiri. Dia dijuluki “Residen Lipat”, karena ketegasannya dalam berjuang dengan melontarkan istilah “sikat” dan “lipat”. Kata-katanya itu menjadi penyemangat bagi para pejuang untuk berjuang mati-matian mempertahankan tanah tumpah darah kita ini.

Di era perjuangan itu, berbagai jabatan penting –di luar bidang kesehatan– pernah dijabat M Djamil. Di antaranya anggota Komite Nasional Minangkabau pada Agustus 1945, yang berlanjut menjadi ketua satu dalam organisasi tersebut pada Maret 1946. Pada 1946, M Djamil diberi amanah sebagai Residen Sumatera Barat, Gubernur Muda Sumatera Tengah sekaligus Gubernur Militer Sumatera Tengah.

Untuk bidang kedokteran dan dunia pendidikan, M Djamil adalah anak bangsa yang pertama yang menyandang 2 gelar doktor sekaligus di era itu. Ini menunjukkan betapa pendidikan dan pengabdiannya kepada masyarakat sebagai hal yang paling utama untuk dilakukannya. Gelar doktornya yang pertama dengan titel Doctor Medicinae Interne Ziekten diperolehnya di Universiteit Utrecht Holland dengan thesis Phitopharmacologisch Onderzoek Volgens Macht pada 31 Mei 1932. Sedangkan titel doktornya yang kedua, diperolehnya dari John Hopkins University, Baltimore, Maryland, USA pada 12 Juni 1934 dengan titel Doctor of Public Health (DPH) melalui thesis berjudul A Study of Mixed Subcutaneous Infections in Guinea Pigs. M Djamil menjadi orang pertama di Indonesia yang menyandang gelar DPH itu hingga 1934.

Sebelum memperoleh gelar DPH, M Djamil terlebih dahulu merampungkan gelar Master of Public Health (MPH) di universitas yang sama pada 31 Juni 1933. Titel lengkap yang disandang dalam namanya adalah Dr M Djamil, Arts, MPH, DPH, Dt Rangkayo Toeo.

Jasanya yang sangat besar dan bahkan diakui oleh pemerintahan Belanda adalah risetnya terhadap penyakit Tuberkolosa (TBC) dan Malaria. Dia melakukan riset di Koto Gadang dan Sianok pada 1925-1927 soal TBC yang hasilnya berbuah dengan diperolehnya penghargaan dari Ratu Belanda, Ratu Wilhemina. Dua tahun kemudian, M Djamil pindah ke Panyabungan, Tapanuli Selatan dengan bekerja di rumah sakit dan poliklinik di Natal. Di daerah itulah dia melakukan penelitian mengenai penyakit Malaria. Melalui hasil risetnya itu, anggaran (begrooting) pemerintah yang telah ditetapkan untuk Malaria-Bestrijding dapat ditekan (penghematan) untuk pemberantasan penyakit tersebut.

Ketika ditugaskan pada Kantor Pusat Penyakit Malaria di Jakarta pada 1938-1939, dalam risetnya M Djamil menemukan cara baru untuk memberantas (membunuh) jentik-jentik nyamuk Malaria (Anophelinen) dengan dedek. Serta Role of Protozoo-Films on The Prevalence of Malaria (peran selaput protozoon di atas air terhadap penjangkitan Malaria). Dua hasil penelitiannya itu, belum sempat disiarkan lantaran pecahnya Perang Dunia ke-2.

Karena keberhasilannya dalam riset tersebut, DR Overbeek, Kepala Bestrijding di Indonesia menetapkan M Djamil untuk diberi titel Malarialoog (ahli malaria). Sementara itu, untuk saat ini ada rencana pula untuk mengangkat M Djamil sebagai Bapak Public Health Indonesia, atas jasa-jasanya di bidang kedokteran. Sementara penghargaan selaku pejuang kemerdekaan Sumbar, M Djamil sudah memperolehnya berdasarkan Keputusan Gubernur No 241/GSB/1976 tertanggal 16 Agustus 1976. Ini pun berlanjut dengan ditetapkannya nama M Djamil sebagai pengganti nama RSUP Jati menjadi RS DR M Djamil berdasarkan Kepmen Kesehatan No 336/MenKes/SK/X/1978 pada 12 November 1978, bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional.

Sedangkan menyangkut upaya untuk menjadikan M Djamil sebagai pahlawan nasional juga telah jauh-jauh hari dilakukan. Mantan Direktur Utama RS Dr M Djamil, dr H Allan Gazali Saus SpTHT MHA Dt Rangkayo Tuo yang juga keponakan kontan M Djamil menyebutkan, usaha itu dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat kampung ke camat, terus bupati, gubernur dan berujung ke Menteri Sosial RI untuk mengurus syarat administratifnya. Secara prinsip sebenarnya sudah clear, tinggal lagi satu syarat yang belum terpenuhi yaitu buku biografi yang bersangkutan. Untuk itu, pihaknya kini tengah menyusun buku biografi tersebut.

“Jika semua ini rampung, Insya Allah dengan usaha dan dukungan kita semua, Dr M Djamil bisa menjadi pahlawan nasional berikutnya dari Sumatera Barat,” harapnya. (***)
Sumber: http://maryulismax.wordpress.com

Senin, 01 Februari 2010

Daftar tokoh Minangkabau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Akademisi

* Arbi Sanit, ilmuwan politik
* Asvi Warman Adam, sejarawan
* Azyumardi Azra, penulis, ilmuwan sosial
* Dewi Fortuna Anwar, ilmuwan politik
* Deliar Noer, ilmuwan sosial
* Effendi Gazali, pakar komunikasi
* Indra J. Piliang, ilmuwan politik
* Maizar Rahman, ahli minyak, sekjen OPEC
* Mestika Zed, sejarawan dan budayawan
* Mochtar Naim, antropolog
* Mohammad Nasroen, filsuf, menteri Indonesia
* Nila Djuwita Anfasa Moeloek, ahli penyakit mata
* Saldi Isra, ahli hukum
* Sheikh Muszaphar Shukor, angkasawan Malaysia pertama
* Taufik Abdullah, sejarawan
* Zainal Abidin Ahmad, pemikir dan pendeta Melayu
* Suryadi, dosen Leiden University
* Dayar Arbain , dosen peneliti unand

Aktivis

* Nazir Datuk Pamuntjak, aktivis Perhimpunan Indonesia
* Rama Pratama, aktivis reformasi
* Shamsiah Fakeh, pemimpin Angkatan Wanita Sedar
* Siti Manggopoh, pejuang Belasting
* Haji Abdul Manan, pejuang perang kamang

Artis

* Ade Irawan, aktris
* Afgan Syah Reza, penyanyi
* Ali Mustafa, penyanyi
* Alvin Adam, aktor, pembawa acara
* Aznil Hj Nawawi, pembawa acara
* Bunga Citra Lestari, penyanyi, aktris
* Camelia Malik, aktris
* Denny Malik, aktor
* Dorce Gamalama, aktris, penyanyi, pembawa acara
* Dude Harlino, aktor
* Elly Kasim, penyanyi
* Ernie Djohan, penyanyi, aktris
* Eva Arnaz, aktris
* Fariz Rustam Munaf, penyanyi
* Giring Nidji, penyanyi
* Gusti Randa, aktor
* Kiwil, pelawak
* Marshanda, aktris
* Masayu Anastasia, aktris
* Melanie Putria Dewita Sari, putri Indonesia
* Nikita Willy, aktris
* Nirina Zubir, akrtis
* Okky Lukman, pelawak
* Olga Syahputra, pembawa acara
* Oppie Andaresta, penyanyi
* Sherina Munaf, aktris, penyanyi
* Soekarno M. Noer, aktor
* Sylvana Herman, penyanyi
* Titi Sjuman, aktris
* Acha Septriasa, aktris, penyanyi
* zubir said , penulis lagu kebangsaan singapura

Atlet

* Markis Kido, bulu tangkis
* Nasrul Koto, sepak bola
* Pia Zebadiah Bernadet, bulu tangkis

Diplomat

* Dino Patti Djalal, diplomat Indonesia
* Hasnan Habib , diplomat Gerakan Non Blok
* Hasyim Djalal, diplomat Indonesia
* Zubir Amin, diplomat Indonesia

Ekonom

* Emil Salim, menteri Indonesia
* Muhammad Chatib Basri, peneliti
* Revrisond Baswir, ekonom
* Rizal Ramli, menteri Indonesia
* Syahril Sabirin, gubernur Bank Indonesia
* Syahrir, ekonom dan politisi

Militer

* Adnan bin Saidi, pahlawan kemerdekaan Malaysia
* Ahmad Hussein, panglima PRRI
* Awaluddin Djamin, kepala polisi Indonesia, menteri Indonesia
* Djamari Chaniago, panglima Kostrad
* Ismed Yuzairi Chaniago, pangdam
* Kemal Idris, panglima Kostrad
* Mohammad Nazir, penggagas AL Indonesia, menteri Indonesia
* Rais Abin, kepala pasukan keamanan PBB
* Rasyid Qurnuen Aquary, komandan Kopassus
* hasnan habib, diplomat, intelektual militer

Pebisnis

* Abdul Latief, pemilik Latief Corporation, menteri Indonesia
* Arifin Tasrif, dirut Petrokimia Gresik
* Arwin Rasyid, dirut Bank CIMB Niaga
* Azwardi Rivai, pemilik jaringan restoran Sari Bundo
* Basir Barthos, pemilik Universitas Borobudur
* Basrizal Koto, pemilik Basko Group
* Bustaman, pemilik jaringan restoran Sederhana
* Bustami Karimammarullah, pemilik Bustami Optical, Singapura
* Chairul Tanjung, pemilik Para Group
* Datuk Hakim Thantawi, pemilik Thaha Group
* Djohan Sutan Perpatih, pemilik NV Djohor Djohan
* Emirsyah Satar, dirut Garuda Indonesia
* Fazwar Bujang, dirut Krakatau Steel
* Hasnul Suheimi, dirut Excelcom
* Hasyim Ning, pengusaha otomotif
* Jefrie Geovannie, pengusaha, politikus
* Julius Sukur, pemilik Universitas Persada Indonesia YAI
* Moeslim Taher, pemilik Universitas Jayabaya
* Nazir Razak, CEO Bank CIMB
* Rahimi Sutan, pemilik Natrabu Group
* Rahman Tamin, pemilik Ratatex
* Rinaldi Firmansyah, dirut Telkom Indonesia
* Sutan Sjahsam, pialang saham, pendiri Perdanas
* Tan Sri S.M. Nasimudin, pemilik NAZA Motor
* Tunku Tan Sri Abdullah, dirut Melewar Group & MAA
* Tuanku Naquiyuddin Tuanku Abdul Rahman, dirut Antah Holding Bhd

Penulis

* Abdul Muis, penulis novel, politikus
* Afrizal Malna, penulis buku
* Ahmad Fuadi, penulis novel
* Akmal Nasery Basral, penulis novel
* Ali Akbar Navis, penulis novel
* Aman Datuk Madjoindo, penulis novel
* Chairil Anwar, penulis puisi
* Darman Moenir, penulis novel
* Gustaf Rizal, penulis novel
* Hamid Jabbar, penulis novel
* Hamka, penulis novel, ulama, politikus
* Idrus, penulis cerpen
* Iyut Fitra, penulis puisi
* Leon Agusta, penulis sajak
* Marah Rusli, penulis novel
* Motinggo Busye, penulis novel
* Muhammad Alwi Dahlan, kolumnis, menteri Indonesia
* Nur Sutan Iskandar, penulis novel
* Raudal Tanjung Banua, penulis novel
* Rivai Apin, penulis puisi
* Rusli Amran, penulis buku
* Sariamin Ismail, penulis novel
* Sutan Muhammad Zain, penulis kamus modern Bahasa Indonesia
* Sutan Takdir Alisjahbana, penulis novel, budayawan
* Taufiq Ismail, penulis puisi
* Tulis Sutan Sati, penulis novel
* Umar Junus, esais
* Wisran Hadi, penulis novel
* Zainuddin Tamir Koto, penulis sajak

Politikus

* Abdoel Halim, perdana menteri Indonesia
* Abdul Samad Idris, menteri Malaysia
* Abdoel Raoef Soehoed, menteri Indonesia
* Abdul Jalil Rahmad Syah I, pendiri Kesultanan Siak
* Abu Hanifah, menteri Indonesia
* Adityawarman, raja Pagaruyung pertama
* Agus Salim, menteri Indonesia, diplomat
* Ahmad Boestaman, pendiri Parti Rakyat Malaysia
* Aisyah Aminy, parlemen Indonesia
* Amirsham Abdul Aziz, menteri Malaysia
* Assaat, presiden Indonesia
* Azwar Anas, menteri Indonesia
* Bachtiar Chamsyah, menteri Indonesia
* Bahder Djohan, menteri Indonesia
* Bustanil Arifin, menteri Indonesia
* Chaerul Saleh, pemimpin parlemen RI dan menteri Indonesia
* Djailani Naro, pemimpin PPP
* Eny Karim, menteri Indonesia
* Fahmi Idris, menteri Indonesia
* Farid Anfasa Moeloek, menteri Indonesia
* Gamawan Fauzi, menteri Indonesia
* Harun Alrasjid Zain, menteri Indonesia
* Hasan Basri Durin, menteri Indonesia
* Hazairin, menteri Indonesia
* Irman Gusman, pemimpin DPD-RI
* Jahja Datoek Kajo, anggota Volksraad
* Mohammad Amir, menteri Indonesia
* Mohammad Hatta, wakil presiden Indonesia, perdana menteri Indonesia
* Mohammad Natsir, perdana menteri Indonesia
* Mohammad Yamin, menteri Indonesia
* Patrialis Akbar, menteri Indonesia
* Rais Yatim, menteri Malaysia
* Rashid Maidin, pemimpin Partai Komunis Malaysia
* Rasuna Said, parlemen Indonesia
* Roestam Effendi, parlemen Belanda
* Sabilal Rasjad, menteri Indonesia
* Sha'ari Tadin, parlemen Singapura
* Shaziman Abu Mansor, menteri Malaysia
* Sjamsuddin Sutan Makmur, menteri Indonesia
* Sutan Mohammad Rasjid, menteri Indonesia
* Sutan Sjahrir, perdana menteri Indonesia
* Syarifudin Baharsah, menteri Indonesia
* Tan Malaka, politikus komunis internasional
* Tuanku Abdul Rahman, Yang Dipertuan Agung Malaysia
* Umar Datuk Garang
* Yusof Ishak, presiden Singapura
* Zuhal, menteri Indonesia
* Jusof Ishak , presiden pertama singapura
* Tifatul Sembiring , tokoh PKS, mentri

Produser

* Arizal, produser film
* Ani Sumadi, produser kuis
* Asrul Sani, produser film
* Djamaludin Malik, produser film
* Imam Putra Piliang, produser film
* Jajang C. Noer, produser film
* Usmar Ismail, produser film

Seniman

* Delsy Syamsumar, pelukis
* Jose Rizal Manua, pendiri Teater Tanah Air
* Wakidi, pelukis
* Wandly Yazid, komponis film Malaysia
* Zubir Said, komponis lagu kebangsaan Singapura, Majulah Singapura

Ulama

* Abbas Abdullah, pendiri Sumatera Thawalib
* Abdul Karim Amrullah, pendiri Sumatera Thawalib
* Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, imam besar Masjidil Haram, Mekkah
* Ahmad Syafei Maarif, pemimpin Muhammadiyah
* A.R Sutan Mansur, pemimpin Muhammadiyah
* Burhanuddin Ulakan, ulama sufi
* Datuk Ri Bandang, penyebar Islam di Sulawesi
* Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Saleh
* Muhammad Jamil Jambek, pendiri Sumatera Thawalib
* Muhammad Saleh Al-Minankabawi
* Sulaiman Ar-Rasuli
* Tahir Jalaluddin Al-Azhari
* Tarmizi Taher, menteri Indonesia
* Tuanku Imam Bonjol, pahlawan perang Paderi
* Tuanku Nan Renceh, pahlawan perang Paderi

Wartawan

* Abdullah Ahmad, pendiri majalah Al-Munir dan Al-Akhbar
* Abdul Rivai, jurnalis, dokter
* Adinegoro, jurnalis, penulis buku
* Ani Idrus, pendiri koran Waspada
* Budi Putra, jurnalis teknologi
* Desi Anwar, wartawan Metro TV
* Miryul MT Miron, jurnalis, praktisi media
* Joesoef Isak, pemilik penerbit buku Hasta Mitra
* Karni Ilyas, jurnalis
* Rohana Kudus, pendiri majalah Sunting Melayu
* Rosihan Anwar, pendiri koran Pedoman

Selasa, 19 Januari 2010

Keluarga Besar Aidit Sesudah Malam Horor itu

Dari sebuah keluarga yang sentosa, keluarga D.N. Aidit luluh-lantak setelah horor 30 September 1965. Anak dan istri pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) itu cerai-berai. Ada yang masuk penjara, ada yang dibuang ke Pulau Buru. Dua anak gadisnya menjadi eksil dan berpindah dari satu negara ke negara lain.

Abdullah Aidit (Ayah D.N. Aidit) Jenazahnya Membusuk Tiga Hari

Malam 30 September 1965, Abdullah menginap di rumah D.N. Aidit di Jalan Pegangsaan Barat 4, Jakarta Pusat. Dia melihat anak sulungnya, D.N. Aidit, dibawa pergi tiga orang tentara bersama pengawal pribadi bernama Kusno.

Pada 1965 itu, Abdullah sudah pindah dari Belitung ke Jakarta karena menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Banyak orang mengira dia wakil dari Masyumi karena saat itu ada dua anggota Dewan dengan nama yang mirip. Yang satu dari Masyumi bernama Aidid, yang lain Abdullah Aidit yang ke Senayan karena kiprahnya dalam organisasi Nurul Islam.

D.N. Aidit tak kunjung pulang, demikian pula dengan Soetanti, istrinya, yang pergi tanpa pamit. Abdullah lalu mengasuh tiga cucunya: Iwan, Irfan, dan Ilham. Beruntung, di rumah itu masih ada dua pembantu dan keluarga dari Belitung.

Si kakek melihat massa yang beringas datang ke rumah. ”Mereka berteriak-teriak dan melempar rumah kami,” kata Ilham Aidit kepada Tempo. Kejadian itu berlangsung pada hari ditemukannya jenazah lima jenderal di Lubang Buaya. Abdullah kerap membesarkan hati cucu-cucunya, ”Sebentar lagi ayah dan ibu kalian datang menjemput.” Tiga anak laki Aidit itu kemudian diangkut seorang paman ke Kebayoran, Jakarta Selatan.

Menurut Murad Aidit, putra bungsu Abdullah Aidit, ayahnya kemudian terbang ke Belitung atas bantuan Wakil Perdana Menteri Chaerul Saleh. Tiga tahun menetap di Belitung, Abdullah jatuh sakit. Dia akhirnya meninggal ketika rumah itu kosong karena Marisah, istri kedua Abdullah, tengah menginap di rumah saudaranya. Tetangga sekitar jarang ke rumah itu, takut terkena getah G30S. Karena tak ada yang mengurus, jenazah Abdullah membusuk tiga hari.

Basri Aidit (Adik D.N. Aidit) Jadi Tukang Kebun di Bogor

Nasib Basri memang paling apes. Peristiwa 30 September 1965 meletus cuma beberapa hari setelah dia pindah kerja di kantor Comite Central PKI di Kramat, Jakarta Pusat. Sebelumnya dia adalah pegawai rendahan di kantor Dinas Pekerjaan Umum Tanah Abang.

Bekerja di kantor PKI, Basri gampang dikenali. Sehari setelah pembunuhan para jenderal, ia dibekuk bersama sejumlah orang PKI lainnya. Ia ditahan di penjara Kramat, kemudian pada 1969 dibuang ke Pulau Buru.

Selama sang ayah di pembuangan, anak-istrinya menjual habis barang di rumah untuk bertahan hidup. Setelah semuanya ludes, hidup keluarga ini amat bergantung pada bantuan saudara, kenalan, dan teman.

Basri keluar dari Buru pada 1980. Atas bantuan keluarganya di Belitung, dia bisa membeli sebuah rumah di Bogor, Jawa Barat. Di sana dia berkebun sambil mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak tetangga. Ketika meninggal dunia, dia cuma mewariskan uang Rp 2,5 juta kepada anak cucunya.

Murad Aidit (Adik D.N. Aidit) Diisolasi di Unit 15

Seperti saudara-saudaranya yang lain, Murad datang ke Jakarta setelah tamat sekolah menengah zaman Belanda. Karena ikut D.N. Aidit sejak remaja, Murad banyak mengenal teman Aidit yang aktif di Menteng 31, asrama mahasiswa zaman itu.

Lulusan fakultas ekonomi dari Universitas Lumumba Moskow ini berkawan dengan banyak sastrawan. Penyair Chairil Anwar adalah sohib kentalnya. Akibat kurang gizi dan makan tak teratur selama ikut Tentara Pelajar, dia sempat menderita TBC dan diopname enam tahun.

Pada saat peristiwa 30 September 1965, Murad menginap di rumah D.N. Aidit. Sebelum pergi dengan tiga orang tentara yang menjemputnya, Aidit cuma memberikan pesan singkat kepada Murad, ”Matikan lampu depan.”

Esok harinya, ketika kembali ke rumahnya di Depok, Murad baru tahu bahwa sejumlah jenderal dibunuh dan PKI dituduh terlibat. Tapi dia tidak berusaha sembunyi.

Di tengah kegentingan situasi Jakarta saat itu, dia sempat datang ke kantor PKI. Markas yang biasanya meriah itu sunyi senyap. Murad ditangkap beberapa hari kemudian.

Sebagaimana anggota PKI lainnya, Murad dipenjara berpindah-pindah. Semula ditahan di Bogor, setelah itu di Bandung, lalu ke rumah tahanan khusus di Salemba, Jakarta. Pada 1971 Murad dibuang ke Pulau Buru.

Di pembuangan itu dia diisolasi di Unit 15. Ini unit khusus untuk menahan petinggi PKI dan mahasiswa yang pernah dikirim Soekarno belajar ke luar negeri. Murad bebas pada 1979. Istrinya, Noer Cahya, meninggal tak lama setelah bebas dari penjara wanita Pelantungan, Kendal, Jawa Tengah. Murad kemudian menikah lagi dengan Lilik Hartini. Kini keduanya tinggal di Depok dan hidup dari pekerjaan menerjemahkan buku.

Sobron Aidit (adik tiri Aidit) Hingga Wafat di Paris

Sejak remaja Sobron suka sastra. Kegemaran itu kian menyala setelah dia datang ke Jakarta pada 1948 dan bertemu dengan Chairil Anwar. Kebetulan Chairil adalah teman Murad dan kerap bermalam di kos Murad di Gondangdia, Jakarta Pusat.

Dari Chairil, juga sastrawan lain seperti Rivai Apin, Asrul Sani, dan H.B. Jassin, Sobron menimba banyak ilmu. Dibantu Chairil, puisi Sobron ketika itu muncul di Mimbar Indonesia. Saat itu usia Sobron baru 13 tahun. Malam setelah sajak itu dimuat, Chairil mentraktirnya makan-makan. Sobron menyantap soto, empal, nasi campur, dan rupa-rupa lauk. Sesudah makan, Sobron baru tahu bahwa uang makan adalah honor puisinya di Mimbar Indonesia.

Ketika peristiwa G30S meletus, Sobron berada di Beijing untuk mengajar bahasa Indonesia. Tapi kontrak tak diperpanjang akibat peristiwa itu. Dia kemudian menjadi petani di negeri tirai bambu itu dan menikahi gadis setempat.

Sempat menjadi penyiar dan redaktur Radio Beijing, pada 1981 ia pindah ke Paris. Bersama eksil lainnya, J.J. Kusni dan Umar Said, Sobron mendirikan Restoran Indonesia di Rue de Vaugirard, di kawasan Luxembourg, Paris. Sobron meninggal pada Februari 2007 karena penyumbatan darah di otak. Buku terakhirnya, Razia Agustus, terbit pada November lalu.

Asahan Aidit (adik tiri Aidit) Jatuh Cinta pada Gadis Vietnam

Saat peristiwa 30 September meletus, Asahan sedang di Moskow. Di ibu negeri beruang merah itu, Asahan sedang memperdalam studi filologi. Mendengar sanak familinya di Indonesia diuber-uber, Asahan enggan pulang.

Dia kemudian pergi ke Cina. Dari sana Asahan pindah ke Vietnam dan meraih gelar doktor dalam bidang bahasa di sana. Dia menikahi gadis Vietnam.

Pada 1984 dia mendapat suaka politik di Belanda dan tinggal di sana hingga sekarang. Anak tunggalnya meninggal secara misterius dan dikuburkan di Inggris beberapa tahun lalu. Asahan termasuk dekat dengan Dipa Nusantara, abangnya. Ia, misalnya, satu-satunya adik Aidit yang pernah naik mobil dinas menteri koordinator bernomor B 13. Kalau Aidit harus bekerja hingga larut, Asahan yang ”disewa” untuk memutar musik-musik klasik. Aidit biasanya minta diputarkan Symphony No. 3 Beethoven.

Dokter Soetanti (Istri Aidit) Menyamar Jadi Istri Orang

Malam 30 September 1965, Soetanti bertengkar keras dengan D.N. Aidit. Tanti ingin suaminya tetap tinggal di rumah dan tidak mengikuti kemauan para penjemputnya. Tetapi Aidit memilih pergi.

Tiga hari setelah malam kelabu itu, Tanti menghilang dari rumah meninggalkan tiga anak lakinya yang masih kecil. Belakangan baru terungkap, Tanti menyusul suaminya ke Boyolali dan bertemu Bupati Boyolali yang juga tokoh PKI. Tak lama di Boyolali, dia kembali ke Jakarta dengan cara menyamar. Tanti dan Pak Bupati itu pura-pura menjadi suami-istri. Agar aksi penyamaran ini sukses, ”Dua orang bocah kemudian diambil sebagai anak angkat,” kata Ilham aidit.

”Suami-istri” ini kemudian mengontrak sebuah rumah di Cirendeu, Jakarta. Sandiwara itu sukses berbulan-bulan, sampai akhirnya para tetangga curiga karena Pak Bupati ini selalu bilang ”injih-injih” kepada istrinya. Sikap dua anak angkat juga mencurigakan. ”Mereka tidak pernah manja kepada dua orang tuanya,” kata Ilham. Dari situ, keduanya ditangkap.

Soetanti bukan wanita biasa. Kakeknya, Koesoemodikdo, adalah Bupati Tuban yang pertama. Menolak untuk meneruskan jabatan sang bapak, ayah Tanti, Moedigdo, memilih merantau ke Medan. Ibu Tanti, Siti Aminah, adalah keturunan ningrat Minang dan teman sekolah Sutan Syahrir.

Tanti masuk sekolah kedokteran di Semarang atas biaya R.M Susalit, saudara sepupu ayahnya, yang juga putra tunggal R.A. Kartini. Setelah menikah dengan Aidit, Tanti memperdalam ilmu kedokterannya di Korea dan menjadi dokter ahli akupunktur yang pertama di Indonesia.

Setelah ditangkap, Tanti berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya hingga 1980. Di antaranya tahanan Kodim 66 dan Penjara Bukit Duri. Dalam sel ia kerap membuat baju untuk anaknya meski salah ukuran: dia selalu menduga anak-anaknya masih kecil. ”Begitu dipakai, bajunya kekecilan,” kata Ilham.

Sekitar 16 tahun Soetanti tidak berjumpa anaknya. Soalnya, paman yang memelihara bocah-bocah itu tak berani membawa mereka menjenguk ibunya di Bukit Duri. Lepas dari penjara Tanti masih sempat berpraktek sebagai dokter. Setelah sembilan tahun sakit-sakitan, Tanti wafat pada 1991.

Ibarruri Putri Alam dan Ilya Aidit (dua putri D.N. Aidit) Memilih Berlabuh di Paris

Keduanya terakhir bertemu sang ayah ketika berlibur ke Jakarta pada Mei-September 1965. Ada yang aneh dari liburan kali ini. Sang ayah, kata Ibarruri, kerap menatap anak sulungnya itu secara sembunyi-sembunyi. ”Seperti ada sesuatu dalam tatapannya itu,” kata Iba.

Bersama ibunya, Iba sudah menginjakan kaki di Moskow, Rusia, pada 1958. Ketika itu masih remaja. Setahun kemudian Ilya yang baru berumur delapan tahun menyusul.

Setelah peristiwa G30S, lama kedua remaja itu tak tahu keadaan keluarga. Di koran beredar informasi rupa-rupa: ada yang menulis Aidit telah mati. Ada yang bilang ayah kedua remaja melarikan diri ke Hong Kong dengan kapal selam.

Belakangan, seorang utusan dari Partai Komunis Soviet menemui mereka dan mengabarkan bahwa sang ayah telah ditembak. Koran-koran mengabarkan Aidit ditembak mati di Boyolali, 23 November 1965.

Dua gadis itu kemudian berkelana dari suatu negara ke negara lain. Pada 17 Februari 1970 mereka pindah ke Beijing, Cina. Dari situ mereka ke Burma, sebelum akhirnya menetap di Paris hingga sekarang.

Iwan Aidit dan si Kembar Ilham dan Irfan Hampir Ditembak, Disapa Sarwo Edhie

Setelah sang ayah pergi pada malam 30 September 1965, dan sang ibu menghilang beberapa hari kemudian, Iwan Ilham dan Irfan dijaga Abdullah Aidit, kakeknya. Saat itu mereka bersekolah di SD Cikini. Ilham dan Irfan kelas satu, sedangkan Iwan kelas enam.

Tiga anak ini kemudian dijemput Om Bayi, adik lelaki Soetanti yang bekerja sebagai direktur perusahaan pelayaran Djakarta Lloyd. Dari rumah pamannya di Kebayoran itu ketiga anak itu dipindahkan ke Bandung dan menetap di rumah Paul Mulyana, saudara lain ibu mereka.

Setelah Paul pindah ke Belanda untuk meneruskan kuliah, tiga bocah ini pindah ke rumah saudara Paul lainnya bernama Yohanes Mulyana. Sepuluh tahun mereka tinggal bersama keluarga itu. Mereka sekolah di SMP Aloysius, Bandung.

Ihlam selalu teringat akan pengalaman menggetarkan ini. Ketika usianya 9 tahun, empat orang petugas datang ke rumah Yohanes dan bertanya betulkah dia memelihara anak-anak Aidit. Yohanes mengangguk.

Tuan rumah ini mengajak petugas itu ke halaman di mana Ilham dan Irfan tengah main kelereng. Mengetahui dua anak itu masih kecil-kecil, dua petugas itu menyarungkan pistol dan berlalu. ”Aku betul-betul gemetar,” kenang Ilham. ”Kami selamat karena umur.” Beruntung, Iwan yang sudah agak besar tidak di tempat.

Ketika sekolah di SMA Kanisius, Ilham kerap berkelahi karena sering diejek sebagai anak D.N. Aidit. Seorang rohaniwan Katolik, M.A. Brouwer, yang mengajar di sekolah, menasehatinya agar tabah. ”Yang penting sekolah setinggi mungkin. Itu membuat kehidupan lebih baik,” kata Brouwer sebagaimana dikisahkan Ilham. Dari Brouwer dia tahu bahwa ada versi lain soal peristiwa 30 September itu. Irfan, sebaliknya, melewati hari-hari itu dalam diam.

Ilham kemudian kuliah di Jurusan Arsitek Universitas Parahyangan, Bandung, Irfan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Iwan di Institut Teknologi Bandung.

Ilham gemar mendaki gunung dan menjadi anggota kelompok pecinta alam Wanadri. Di situ dia mengenal Letnan Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, komandan pasukan khusus yang membasmi PKI pasca-G30S. Sarwo Edhie adalah anggota kehormatan Wanadri. Menurut Ilham, ia bertemu pertama kali dengan Sarwo Edhie pada 1981, sewaktu dia dilantik menjadi anggota Wanadri. ”Aku didekap sama dia. Tidak lama, hanya belasan detik,” kata Ilham.

Pertemuan kedua berlangsung pada 1983 dalam sebuah acara pelantikan anggota baru Wanadri di Kawah Upas, Tangkuban Perahu. Saat itu Ilham menjadi komandan operasi pendidikan dasar Wanadri. Sekitar pukul 6.30 pagi, Sarwo Edhie mendatanginya. ”Kamu sekarang jadi apa nih?” tanya Sarwo. Ilham memberitahukan bahwa dia sudah jadi kepala operasi. ”Bagus,” sahut Sarwo Edhie.

Sarwo Edhie kemudian meminta waktu berbicara berdua. Mereka menyingkir ke tebing Kawah Upas. Sarwo Edhie bertanya tentang kabar dan kuliah Ilham. ”Aku jawab lancar, meski sebenarnya tidak begitu lancar,” tutur Ilham sembari tertawa.

Sarwo Edhie lalu berkisah tentang peristiwa 30 September 1965 itu. ”Kamu bisa menerima ini kan?” kata Sarwo. Sarwo, kata Ilham, tidak meminta maaf. Tapi Ilham lega. ”Ini bentuk rekonsiliasi yang lengkap,” katanya.

Lulus jadi arsitektur pada 1987, persis ketika pemerintah gencar melakukan screening terhadap anak-anak mantan anggota PKI. Sang kakak, Iwan, dikeluarkan dari sebuah perusahaan ternama setelah diketahui anak PKI. Adapun Ilham selalu pindah kerja. ”Begitu mereka tahu aku anak Aidit, mereka membuat aku tidak betah supaya keluar.” Sejak 1992, Ilham lalu membuka usaha sendiri di bidang arsitektur.

Sejak dua tahun lalu Ilham menetap di Bandung setelah tinggal di Bali selama 10 tahun. Dia juga kerap bolak-balik ke Aceh, ikut serta dalam proses rekonstruksi Aceh pasca-tsunami. Irfan kini menetap di Cimahi, Jawa Barat, sedangkan Iwan menjadi warga negara Kanada dan bekerja di sebuah perusahaan pertambangan. Pada 1980 ketiga anak laki-laki itu bertemu sang ibunda dan mendapat kontak dengan Iba dan Ilya di Paris.
Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com

Indahnya Air Danau Maninjau

Senin, 9 Juni 2008

Barangkali tidak banyak yang tahu bahwa perkedel rinuak dan ikan bada goreng adalah makanan favorit Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri Indonesia. Setiap pulang ke kampung halaman, menu khas Danau Maninjau itulah yang dicari.
Roslinar (64), sepupu Natsir yang masih tinggal di kampung halaman, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, turut memasak aneka makanan kesukaan Natsir.

”Sebelum datang, biasanya ada orang suruhan yang datang mengabarkan jadwal kedatangan Natsir sehingga kami juga bisa mempersiapkan segala sesuatu, termasuk makanan kesukaan beliau,” kenang Roslinar, yang neneknya bersaudara kandung dengan nenek Natsir.

Bagian tengah rumah Roslinar kerap digunakan Natsir berkumpul dengan kerabat. Rumah Natsir sendiri, yang bersisian dengan rumah Roslinar kini, jarang digunakan. Kondisi rumah Natsir kini juga tidak terlampau terawat, antara lain, karena tidak ada yang menempati rumah itu.

Natsir yang dikenal sebagai politikus dan tokoh Islam Indonesia rupanya juga kerap memompakan semangat bagi sanak saudara di kampung halaman. ”Kalau Natsir datang, dia selalu mengundang semua sanak saudara untuk berkumpul. Beliau sering mengingatkan kami untuk terus berjuang walaupun sekarang sudah merdeka,” tutur Roslinar, yang mengingat kedatangan terakhir Natsir sekitar 20 tahun silam.

Semangat berjuang dan bekerja keras memang sudah tertanam dalam diri Natsir sejak kecil. Dalam keluarga besar, didikan untuk hidup sebagai pekerja keras juga ditanamkan dalam diri setiap anak.

Sejarah yang tersimpan

Cerita sejarah tokoh dari Danau Maninjau tidak berhenti pada Natsir saja. Danau Maninjau dikenal pula melahirkan tokoh- tokoh nasional pada era akhir abad ke-19 hingga abad ke-20, seperti Buya Hamka, Rasuna Said, dan Nur Sutan Iskandar.
Sebagian kisah tentang tokoh yang lahir dari Danau Maninjau masih bisa digali lewat sejumlah literatur yang tersimpan di nagari yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, itu. Ibu-ibu pengajian Maninjau, misalnya, menggagas berdirinya Rumah Baca Moh Natsir yang menyimpan sejumlah literatur tentang Natsir dan beberapa tokoh Danau Maninjau.
Sejumlah literatur yang pernah dibaca dan dimiliki Natsir seharusnya bisa menjadi peninggalan bagi masyarakat di kampung halaman. Sayangnya, dokumentasi itu—termasuk sejumlah foto Natsir—dimusnahkan ketika Pemberontakan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) meletus pertengahan abad ke-20.
Cerita tentang sejarah juga tidak banyak diketahui warga Maninjau. Umumnya, hanya satu- dua orang dekat yang mengetahui profil sang tokoh. Itu pun tidak semuanya mengetahui secara detail kehidupan tokoh.
Warga di sekitar Mushala An Nur, misalnya, tidak banyak yang mengetahui riwayat hidup Hj Rangkayo Rasuna Said, tokoh yang kerap mengecam ketidakadilan penjajah Belanda. Padahal, mushala itu dibangun oleh H Said, ayahanda Rasuna Said, pada tahun 1926.
Mungkin hanya Rosnidar (57), warga Maninjau, yang bisa menceritakan kisah Rasuna Said, tokoh yang lahir tahun 1910, dengan lebih rinci. Dokumentasi tertulis ataupun foto tentang Rasuna Said memang tidak banyak tersisa di kampungnya, antara lain, karena tokoh yang pernah duduk di DPR RIS dan DPA ini merantau sejak usia dini.
Hanya kisah dan dokumentasi tentang Buya Hamka yang relatif lebih banyak tersedia di Maninjau. Selain dikenal luas oleh masyarakat sebagai tokoh ulama pembaru Islam, catatan sejarah Hamka juga masih tersimpan rapi di rumah bergonjong yang dibangun sebagai Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka.
Di rumah itulah tersimpan aneka foto, memorabilia, serta buku-buku buah karya Hamka, termasuk novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Hanif Rasyid, anak guru Hamka, yakni Buya Mansyur, sekaligus pengelola museum, juga mengetahui persis kehidupan Hamka berikut pemikiran tokoh ini.
Kalau Hamka menyimpan sederet catatan karya di tanah kelahiran, kisah tentang Laksamana Muda Mohammad Nazir, Panglima Tentara Republik Indonesia Angkatan Laut, sangat sedikit diketahui masyarakat setempat. Padahal, Nazir menyumbangkan banyak hal bagi kekuatan perang TNI Angkatan Laut.
Cerita tentang Nazir justru dikenang para veteran angkatan laut, seperti Sidi Ibrahim Yahya (79), mantan prajurit Pangkalan Besar AL Pariaman. Sidi mengenang Nazir sebagai mualim kapal besar pertama di Indonesia. Sayangnya, tidak ada peninggalan sejarah tokoh ini di kampung halamannya. Rumah milik beliau juga sudah dikontrakkan.
Nasib yang lebih tragis masih terasa pada DN Aidit, Ketua Committee Center PKI. Aidit bahkan sering kali disangkal oleh penduduk Maninjau sebagai putra daerah. Jangankan menunjukkan bekas rumah keluarga Aidit, sebagian warga malah mengaku tidak tahu bahwa kampung halaman DN Aidit adalah Maninjau.

Rantau dan Orde Baru

Sejarawan Mestika Zed mengakui bahwa Danau Maninjau, pada suatu masa, pernah melahirkan tokoh-tokoh nasional yang bergerak di bidang pembaruan agama, politik, sastra, hingga keamanan.
Budaya merantau yang banyak dilakukan masyarakat Minangkabau menjadi salah satu pendorong munculnya tokoh-tokoh besar. Ketika itu, masyarakat menggeluti pertanian sebagai satu-satunya alternatif penghidupan di Maninjau. Oleh karena itu, merantau menjadi salah satu alternatif untuk mendapatkan pekerjaan lain sekaligus memperluas pemikiran.
Merantau, di satu sisi, melahirkan tokoh dan, di sisi lain, membuat dokumentasi serta literatur di kampung asal menjadi sangat terbatas.
Sejarah memang tidak bergerak linier. Maninjau dulu melahirkan banyak tokoh penting bangsa ini dan mungkin tidak terulang lagi. Namun, bukan berarti Maninjau tidak bisa berbuat banyak.
Maninjau hari ini juga bisa membuat tonggak sejarah untuk meluruskan kembali warisan sejarah yang ditutup-tutupi sejak masa Orde Baru, seperti yang masih melekat pada sosok Aidit. Masyarakat di Kanagarian Pandam Gadang, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, adalah contoh yang bersedia mengakui Tan Malaka sebagai tokoh bangsa dari daerah itu setelah pada masa Orde Baru Tan Malaka dihapuskan dari sejarah.
”Setelah 10 tahun reformasi, buah reformasi terpenting dan seharusnya terjadi adalah revolusi akal sehat. Ini yang tidak jalan. Kita belum dewasa melihat sejarah bangsa kita,” kata Mestika.
Sebagai kampung halaman para tokoh besar yang menyumbangkan aneka perubahan di Indonesia, Maninjau potensial sebagai tempat wisata sejarah di Sumatera Barat, dengan birunya air Danau Maninjau.
Apabila dulu para tokoh merantau untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, kini Maninjau seharusnya menjadi rujukan orang yang ingin menimba semangat kepahlawanan dari sederet tokoh yang lahir di sepanjang tepian danau. Kesegaran pemandangan ini pun bisa melahirkan pandangan baru dalam melihat sejarah bangsa ini.

Agnes Rita Sulistyawaty

Sumber : Kompas, Senin 9-06-2008